Ternyata Golongan Berpendidikan Lebih Rentan Terpapar Radikalisme

Berita Terbaru – Yudi Latief selaku Mantan Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) memandang, golongan terdidik riskan terkena memahami radikalisme sebab lebih gampang kenal beberapa ideologi, diantaranya eksklusifisme pada hal tersendiri yang menggerakkan cenderung sikap intoleransi.

Ternyata Golongan Berpendidikan Lebih Rentan Terpapar Radikalisme

“Dalam soal ini kan yang paling riskan memang golongan terdidik di lingkungan perkotaan. Dimana saja ideologi itu ialah makanan golongan terdidik hingga sumber kerawanan memang berada di golongan terdidik,” tutur Yudi dalam seminar di lokasi Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (15/11/2019).

Menurut Yudi, orang yang terdidik mempunyai keinginan pengerahan dengan vertikal. Saat keinginan mobilitas vertikal hadapi fakta ekonomi yang sedang landai, lapangan kerja tidak ada, serta akses usaha terbatas, karena itu keinginan mereka jadi terbatas serta membuat frustasi. Mengakibatkan, mereka lari ke barisan militan.”Umumnya mungkin mereka akan lari pada barisan militan jadi sumber agunan sosial, perasaan aman dan lain-lain,” sebut Yudi.

Karenanya, menurutnya, untuk menangani sikap intoleransi dibutuhkan pembangunan dari sisi politik ekonomi. Yudi memperingatkan, keadaan ekonomi warga yang tidak sejahtera dapat jadi bom waktu di waktu depan.

“Jumlahnya angka angka golongan terdidik naik, sesaat lapangan kerja minim, lalu akses usaha dikendalikan beberapa orang saja hingga saya pikir pemerintah butuh pikirkan bagaimana memperluas sektor-sektor riil serta meningkatkan mobilitas vertikal lebih inklusif,” sebut Yudi. “Karena kita butuh melakukan perbaikan keadilan sosial. Sekuat apapun persatuan nasional kita, jika keadilan sosial tidak rata serta ketimpangan sosial masih ada karena itu intoleransi akan semakin kuat,” katanya.

Awalnya, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas-HAM), Ahmad Taufan Damanik, mengutarakan ada cenderung sikap intoleransi yang makin kuat di golongan anak muda terdidik. Penemuan ini berdasar hasil analisis Komnas-HAM semenjak 2012-2018. Ahmad mengutarakan, indeks cenderung sikap intoleransi makin kuat sampai sampai lebih dari 50 %.

“Saat ini cenderung sikap intoleransi ini telah di atas 50 %, dari yang semula baru 20-an %. Ada keadaan yang bertambah terus semenjak 2012 sampai 2018,” tutur Ahmad Jumat. Data ini, kata Ahmad, adalah hasil gabungan dari analisis Komnas-HAM, laporan yang masuk ke Komnas-HAM, riset media, dan serta riset dari beberapa instansi pemerhati masalah HAM serta kebebasan beragama.

Cenderung intoleransi yang kuat itu berlangsung pada anak muda di tenggang umur 15-35 tahun. Dengan detil, Ahmad menyebutkan trend penambahan cenderung sikap intoleransi pada anak muda kelas menengah yang tinggal di kota serta datang dari golongan berpendidikan tinggi.

Ahmad selanjutnya memberi contoh cenderung dari sikap itu. “Contohnya, penerimaan mereka pada praktik agama orang lain. Misalnya waktu individu beragama A diberi pertanyaan bila ada individu dari agama lain melaksanakan ibadah di dekat tempat tinggalnya, ia mengatakan menampik, ” papar Ahmad.

Sikap yang juga sama diketemukan pada individu agama B saat tahu ada orang beragama lain ingin melaksanakan ibadah di lingkungan tempat tinggalnya. “Serta itu cenderung sikap intoleransi (yang berkaitan agama serta melaksanakan ibadah) bertambah dari tahun ke tahun,” papar Ahmad. Selain itu, pada kerangka pergaulan, sikap yang condong intoleransi juga bertambah.

“Yang paling fundamen yaitu bagaimana ia berkawan, contohnya di lingkungan kerja ada kemauan untuk berkawan dengan yang satu agama, satu suku, dan lain-lain,” kata Ahmad. Dia selanjutnya mengkaitkan penemuan ini dengan evaluasi di sekolah serta kampus. Menurutnya, ada faktor-faktor pendorong bertambahnya sikap yang condong intoleran.

Pertama, pendidikan agama di sekolah masih menonjolkan cerita eksklusifisme. “Kurikulum di sekolah yang mengajari untuk menghormati agama yang berlainan makin hari makin sedikit. , kurikulum yang lebih mengutamakan masalah akademik saja, ” jelas Ahmad. Ke-2, pada tingkat perguruan tinggi, ada organisasi mahasiswa yang sifatnya eksklusif. Organisasi semacam ini memengaruhi perubahan sikap intoleran sebab malas berkawan dengan organisasi lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *