Wajib Tahu Penyebab Yang Membuat Generasi Milenial Mudah Terserang Gangguan Mental

Berita Terbaru – Data WHO mengatakan 1/2 dari penyakit mental berawal semenjak remaja, yaitu di umur 14 tahun, dengan beberapa masalah yang tidak teratasi semenjak awal. Bunuh diri karena stres jadi pemicu kematian paling tinggi pada anak muda umur 15-29 tahun. Ini bermakna, milenial benar-benar beresiko alami masalah mental.

Wajib Tahu Penyebab Yang Membuat Generasi Milenial Mudah Terserang Gangguan Mental

Bukti ini pasti sedikit mengagetkan, mengingat umur milenial ialah waktu satu orang ingin serta berpeluang untuk tunjukkan keberadaan diri serta awal memastikan arah hari esok. Lalu, apa sebetulnya yang menyebabkan masalah mental pada generasi milenial? Baca 3 pemicunya, seperti diambil wartawan dari launching Sequis.

Yang pertama adalah Perubahan fisik, emosional, psikologis, serta finansial

Pada umur milenial berlangsung beberapa pergantian baik fisik, emosional, psikologis, finansial, serta lingkungan pergaulan. Pergantian ini ialah waktu peralihan buat mereka menjadi pribadi yang masak. Nah, yang menjadi permasalahan, saat mereka tidak siap pada perubahan-perubahan itu, ini pasti menggangu mental mereka.

Contohnya saja, waktu harus lulus dari sekolah serta akan meneruskan ke perguruan tinggi tapi hadapi kesusahan finansial, tidak dapat hadapi kompetisi waktu cari pekerjaan, tidak dapat se-eksis rekan sepantarannya, serta ada banyak permasalahan lain yang bisa membuat jiwa milenial terguncang selanjutnya tutup diri. Untuk itu, pendampingan, perhatian, serta dorongan positif dari orang-tua, keluarga, serta beberapa orang paling dekat penting buat remaja untuk menolong mereka mempersiapkan waktu depannya.

Yang kedua adalah Tidak dapat menyesuaikan pada perkembangan tehnologi dan sosial media

Perkembangan tehnologi tuntut potensi menyesuaikan dari pemakainya. Tapi sayangnya, tidak kebanyakan orang dapat memburu pesatnya perkembangan tehnologi di luar sana. Buat milenial, contohnya, perkembangan tehnologi sering tidak selamanya dipakai secara baik. Misalnya, gampang memperoleh info tetapi malas lakukan verifikasi, memakai aplikasi yang tidak cocok usia, gampangnya berkomunikasi dengan siapapun dengan private, dan share photo, video, serta content yang bisa jadikan materi untuk menjatuhkan satu orang.

Kedatangan sosial media yang sebenarnya mempunyai tujuan mempermudah koneksi sosial, pada kenyatannya seringkali tampilkan dunia fatamorgana yang penuh kebahagiaan serta kemewahan. Belum juga bermacam filter yang sukses membuat tampilan jadi tambah lebih menarik. Berarti, beberapa hal yang tidak sesuai kenyataan serta semu dalam sosial media cuma untuk membuat image, kepentingan keberadaan sosial, atau kebutuhan usaha.

Nah, tuntutan terlalu berlebih ini bisa menyebabkan ketergantungan serta membuat beberapa milenial tidak yakin diri. Mereka sering memperbandingkan dianya dengan orang lain yang mereka lihat di sosial media, selanjutnya jadi kuatir atau jadi pribadi yang manipulatif supaya kelihatan prima sampai jadi stres.

Yang ketiga adalah Ide perfeksionisme dalam diri milenial

Masalah mental milenial bukan sekedar masalah salah serta salah memakai tehnologi serta sosial media. Ada pula ide perfeksionisme yang benar-benar dekat sama lingkungan milenial, yakni harapan tinggi pada dianya serta pada beberapa hal di sekelilingnya. Milenial ingin tampil prima, ingin kelihatan cemerlang dalam lingkungan pergaulannya, atau serta malu bila keadaan ekonomi keluarga tidak seperti lingkungan pergaulannya.

Satu orang dengan ide perfeksionisme semacam itu umumnya akan berusaha keras untuk mendapatkan kesempurnaan serta dapat bereaksi negatif pada kekeliruan kecil. Mereka dapat mengomentari diri kita dengan keras bila tidak berhasil lakukan suatu hal. Bisa saja mereka akan gampang mempersalahkan seputar bila dipandang tidak memberi dukungan gagasannya atau bila sekelilingnya lakukan kekeliruan.

Hasil yang tidak prima dapat membuat mereka tidak senang, geram, mengomel, menggerutu, serta berteriak. Tuntut diri kita serta lingkungan untuk prima dan tidak siap terima kekurangan atau kekeliruan membuat mereka jadi pribadi yang tidak dapat untuk mengatur emosi serta jaga perasaan orang lain. Selanjutnya, saat dijauhi oleh sekelilingnya, dia juga susah terima fakta jika pergantian harus diawali dari diri kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *