Profesor asal Australia Yang Mencintai Dunia Sastra Indonesia

Berita Terbaru – Telah lebih dari 1/2 era lamanya pria kelahiran Sydney, Australia bernama Harry Aveling mengartikan teks sastra Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris untuk dibaca oleh orang Australia. Kesenangannya di dunia penerjemahan tumbuh bersamaan dengan kemauannya mengenalkan karya sastra Indonesia pada pembaca Australia di tahun 1960. “Saat itu sedikit teks yang ditranslate dari Bahasa Indonesia. Semua yang telah ditranslate cuma mengomentari pemerintah warga Indonesia,” jawab Harry dalam pembicaraan dalam bahasa Indonesia saat didapati wartawan ABC Natasya Salim di Melbourne minggu kemarin. “Saya ingin mengartikan sastra yang lebih baik mutunya untuk warga Australia yang saat itu belum mengetahui sangat banyak mengenai Indonesia lewat puisi serta novel.”

Profesor asal Australia Yang Mencintai Dunia Sastra Indonesia

Sekarang, berkas daftar kisah hidup Harry yang berlembar-lembar banyaknya telah diwarnai oleh judul-judul terjemahan karya sastra Indonesia kepunyaannya. Tidak hanya jadi penerjemah, Harry sekarang ialah pembimbing mahasiswa Studi Indonesia di Fakultas Literatur, Bahasa, Budaya serta Linguistik Kampus Monash. Pengalamannya sekian tahun mengajar bahasa di kampus Australia, Indonesia serta Malaysia dan gelar Magister Studi Malaysia dari Kampus Sydney jadi penopang karier yang saat ini dia lalui.

Beberapa penghargaan seperti Penghargaan Karunia Peningkatan Sastera (1991), Penghargaan Literatur Khatulistiwa untuk Puisi (2006) serta yang lain mengisyaratkan kepiawaiannya di dunia sastra Indonesia. Antara jumlahnya novel, puisi dan teks yang lain yang telah dia translate, buku puisi berjudul “Kill the Radio” (Radio Kumatikan) karya Dorothea Rosa Herliany jadi satu diantara favoritnya. “Tulisan yang paling terkesan ialah ‘Kill the Radio’. Dorothea [yang menulis] ialah penulis wanita yang benar-benar berani serta jujur dalam tulisannya.” Sampai sekarang, Harry masih terkait baik dengan Dorothea yang tinggal di Bali.

Interviu dengan Harry Aveling . Interviu dengan Harry Aveling ( Indonesian )Bahasa Indonesia benar-benar beraniSetiap bahasa memang mempunyai kekhasan semasing, tetapi menurut Harry, Bahasa Indonesia ialah bahasa yang paling maju. “Sastra Indonesia semakin maju dibanding sastra Malaysia sebab jumlahnya masyarakat negaranya tambah lebih banyak,” kata Harry saat ditemuinya di universitas Monash University Clayton. “Sampai pertengahan era lalu yang menulis sastra Melayu ialah guru-guru sekolah, sedang yang menulis sastra Indonesia ialah lulusan kampus.” Menurut dia, latar penulis yang berlainan ini memengaruhi tingkat keberanian mereka untuk memiliki pendapat melalui tulisan.

“Saat menulis orang Indonesia lebih bebas. Ibaratnya ‘setuju ataukah tidak, tidak apalah’, jika menurut opini saya. Sedang jika Melayu lebih berhati-hati.” Sepanjang beberapa puluh tahun Harry telah mengartikan karya sastra dari Bahasa Indonesia, Malaysia, serta Prancis di Vietnam. Daya tarik Bahasa Indonesia makin jadi di mata Harry lihat kekuatan mengembangnya.

Contoh perubahan yang terlihat sekarang ialah pemakaian slang, terutamanya di golongan remaja Indonesia. “Bahasa Indonesia ialah bahasa yang hidup serta berkembang. Tetapi jangan berharap saya memahami yang telah berkembang saat ini sebab telah tua.” jawabnya sambil ketawa. Harry bisa lihat dengan jelas ketidaksamaan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris jadi bahasa ibu yang dia pakai sepanjang tumbuh di Australia. “Sastra Indonesia benar-benar menarik. Pribadi serta tulisannya sangat bagus. Sikap panorama pada dunia juga dikit berlainan dengan orang Australia.”

Rintangan sepanjang 50 tahun. Senang duka seseorang penerjemah telah Harry alami sepanjang lebih dari 50 tahun menekuni di dunia mengartikan karya sastra. Satu diantara rintangan yang Harry mengmelawan ialah keharusan mengerti budaya dari teks yang dia translate. “Untuk mengartikan, kita harus pelajari budaya dibalik teks itu secara baik. Contohnya, mengenai budaya bersembahyang,” kata Harry . “Atau mengenai panggilan ‘ayahanda’. Terkadang sulit tahu jika kata itu bermakna ayah kandung atau cuma bentuk sopan santun.”

Rintangan ini dia mengmelawan saat mengartikan teks penulis berbahasa Jawa seperti Umar Kayam serta Arifin C. Noer ditengah-tengah terbatasnya alat membantu. “Mereka menulis dalam Bahasa Indonesia tetapi bersatu dengan Bahasa Jawa. Sedang dahulu tidak ada kamus Bahasa Jawa yang komplet.” Selain itu, ketidaksamaan ketertarikan bacaan dari orang Indonesia dengan orang Australia seringkali jadi masalah buat dianya.

“Ada tulisan yang sentimental sekali yang disukai orang Indonesia tetapi orang Australia tidak tertarik,” kata Harry. “Ini bermakna ada tulisan yang gampang ditranslate serta ada tulisan yang benar-benar tidak dapat ditranslate.” “Uang tidak ada tetapi banyak rekan. Tidak bisa disangkal, pendapatan seseorang penerjemah maupun penulis lebih rendah dari penghasilan pekerjaan lain biasanya.

Sadar akan ini, Harry masih merasakan suka sebab memperoleh banyak rekan dari pekerjaan itu. “Jadi seseorang penerjemah itu menyenangkan. Bisa banyak rekan. Uang tidak ada, tetapi banyak rekan.” Menariknya, pendapatan uang yang dia temukan malah seringkali dia beri pada rekan penulisnya di Indonesia. “Jika mendapatkan uang dalam rupiah banyaknya sedikit dalam dollar Australia. Bertambah baik saya beri pada rekan penulis di Indonesia.”

Harry menjelaskan jika seseorang penerjemah harus kuat terima masukan dari pembaca. Pelajaran ini dia temukan dari pengalamannya mengartikan buku Melayu yang memetik banyak masukan dari tahun 1970 sampai saat ini. “Buku yang terbanyak dinilai itu di Malaysia. Namanya ‘Selena’. Buku ini didalamnya berputar terus sampai tebalnya 500 halaman,” kata Harry. “Semakin lama orang jemu membacanya. Pada akhirnya saya potong agar lebih lancar serta lebih menarik jadi 300 halaman.”

Dia menjelaskan jika masukan akan tetap jadi sisi dari karier seseorang penerjemah. “Dukanya penerjemah tetap dinilai oleh pembaca. Jika translate-nya literal, ada yang tidak senang. Translate-nya bebas juga masih ada yang tidak senang.” Karena itu, dia lebih pilih tidak untuk mempedulikan masukan dari pembaca. “Jadi saya sukanya berpikir ‘Ah, saya tidak perduli. Mengartikan saja’ sebab sudah mengetahui akan dinilai beberapa orang. Apa bisa buat?” kata Prof Harry Aveling.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *